Dari Ghibah sampai Hilangnya Nurani

Masih ingat kejadian kebakaran di Meteseh 26 Maret 2015 terlihat saat ini kepedulian sosial sebagian tetangga sudah mulai luntur.

Pagi ini kembali saya dikejutkan pernyataan rumpian / ghibah ibu ibu muda yang sedang berbelanja. Seorang dari mereka bercerita bahwa barusan melihat ada orang jatuh dari kendaraan kemudian ada yang mencoba menolong, malah orang yang menolong mendapat marah dari yang ditolong. Kemudian si Ibu ini menambahi dengan komentar dan pernyataan, “Aku memang saiki wegak kok nulung wong, lha akibate koyo ngono kui” (saya sekarang tidak mau menolong orang, karena berakibat seperti itu), parahnya lagi ibu ibu yang lain memperkuat dengan koor ” iya ya…iya ya” trus ada yg menimpalo “sekarang itu udah ngga jaman nolongin orang, orang yg ditolong kebanyakan tidak tau terimakasih”

Doh…. miris dan prihatin…
Memang ghibah / rumpian itu berbahaya… secara tidak sadar mereka sudah mengubah tata moral dan norma yang dulu diwariskan leluhur bangsa ini dan juga sudah diatur dalam agama bahwa Tolong Menolong itu Wajib dan Ikhlas.
Hilangnya Nurani untuk saling peduli dimulai dari arena ghibar ibu ibu muda yang seharusnya adalah pendidik utama bagi putra-putri-nya.

Terlepas dari kasus kasus yang disampaikan menjadi contoh tidak seharusnya menjadi sebuah rujukan dan pembenaran untuk mengingkari bahwa menolong orang susah itu wajib.

Bisa jadi saat itu orang yang ditolong tidak butuh untuk ditolong, bisa jadi orang yg jatuh tersebut mempunyai kebiasaan buruk dengan membentak orang yang memang dia tidak suka, bisa jadi orang tersebut mempunyai pengalaman buruk dengan orang yang berkedok menolong tapi ternyata mentung (memanfaatkan keadaan).

Kewajiban Tolong Menolong ini tetap seharusnya kita lestarikan dan jalankan dengan ikhlas… dan misalnya orang yg hendak kita tolong tidak berkenan ya kita mundur dengan teratur dan baik. Di sini diuji apakah kita Ikhlas atau tidak dalam menolong. Jika Ikhlas maka apapun respon dan akibat dari tindakan tolong menolong ini akan siap kita terima dengan lapang dada.

Yuk mari budayakan kembali kebiasaan Tolong Menolong dengan Ikhlas, tanpa ke-ikhlas-an akan sia sia.

Mari sedikit kita renungkan terjemahan berikut

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. [Al Baqarah: 265]

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaanNya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharap perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya itu melewati batas. [Al Kahfi : 28].

Sesungguhnya Allah menolong ummat ini dengan orang-orang yang lemah dengan do’a, shalat dan keikhlasan mereka. [HSR Nasa-i, 6/45].

0.00 avg. rating (0% score) - 0 votes